Feeds:
Pos
Komentar

 

Salafy selalu mengobarkan fitnah dan perpecahan di dalam tubuh ummat Islam semenjak zaman Ibn Taimiyah, Muhammmad bin Abdul Wahab sampai para masyaikh salafiyin terkini seperti syeikh Rabi, syekh muqbil dan lain-lain yang diikuti secara membebek oleh para asatidz salafy indonesia yang sangat gemar mengkafirkan kaum muslim yang berbeda faham dengan mereka, baik salafy yamani ataupun haraki atau salafy yang lain ada ciri utama mereka yaitu arogan dan fanatik dengan manhaj salaf dan para syeikh mereka hanya golongan mereka saja yang benar yang lainnya menyimpang bahkan kafir…kaum salafy ini tidak ada ubahnya dengan kaum khawarij yang gemar mengkafirkan sesama muslim atau lebih tepatnya kaum salafy ini adalah penjelmaan semangat khawarij di zaman ini sebagai jamaah takfir yang mewarisi semangat kaum khawarij dapat kita ambil hikmah dari ucapan Imam Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah bahwa : ” Janganlah kalian bunuh kaum khawrij sepininggalku karena tidaklah sama orang yang menginginkan kebenaran tetapi terlepas darinya bagaikan terlepasnya anak panah dari busurnya(khawarij)dengan orang yang menginginkan kebatilan kemudian memperolehnya(mu’awiyah dan pengikutnya)mereka akan terus dilahirkan dari tulang sulbi dan rahim-rahim perempuan dan apabila muncul pembesar diantara mereka Allah akan melemahkan dan menghancurkan mereka…nah coba lihat persamaan salafy dan khawarij sama-sama suka mengkafirkan kaum muslim yg berbeda faham dgn mereka. Ribuan kitab di tulis oleh para ulama rujukan mereka dari abad ke abad dengan pondasi keyakinan yang rapuh mereka meyakini dengan dalil yang sangat kuat bahwa orang tua nabi Saaw adalah musyrik sejati bahkan Nabi sendiri mereka yakini pada awalnya juga orang yang sesat dengan dalil Naqli.. apa mungkin nabi terlahir dari orang-orang yang tidak suci ( Najis) karena alqur’an mengatakan orang=orang kafir adalah najis : “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis,…’ QS. at-Taubah (9) : 28

Tidak ada seorang Nabi pun yg lahir dari ibubapa musyrik, dan inilah juga yg berlaku kpd Rasulullah saaw.

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. QS. al-Fath (48) : 23

Maka dengan keyakinan ini saja tertolaklah semua argumentasi kaum salafy bahwa mereka adalah yang paling benar belum lagi keyakinan mereka tentang persoalan yang lainya yang sangat ganjil dan menyesatkan dan mereka tengah memprovokasi umat Islam dengan ajaran bathil berkedok tauhid.

Dengan keyakinan itu tidaklah aneh dan berlebihan kalau kaum salafy ini gemar mengkafirkan kaum muslim yang berbeda faham dengan mereka karena keyakinan mereka diawali dengan pengkafiran kedua orang tua Nabi Saaw dan bahkan Nabi Saaw sendiri diyakini pada awalnya sesat sebelum menerima wahyu dengan dalil Alqur’an dan alhadist yang menurut mereka sangat jelas dan terang-benderang…Naudzubillahi min dzalik semoga kaum muslim terlepas dari keyaikanan ganjil dan menyesatkan dari kelompok takfir ini.

Salafy / Wahabi Pecah Belah

Salafi meyakini bahwa hanya ada satu golongan yang selamat dan masuk syurga, yakni salafi, dari sekian banyak golongan yang ada saat ini (73 golongan). Salafi menggunakan landasan hadits Nabi saw, berikut ini:
Umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.”Ditanyakan kepada beliau: “Siapakah mereka, wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku.” (HR Abu Dawud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darami dan Al-Hakim).
Kemudian diperkuat lagi dengan kaidah yang mereka gunakan bahwa
“Kebenaran hanya satu sedangkan kesesatan jumlahnya banyak sekali”, kebenaran yang satu ada pada salafi!
Keyakinan ini berdasarkan hadits Nabi saw:
Rasulullah saw bersabda: ‘Inilah jalan Allah yang lurus’ Lalu beliau membuat beberapa garis kesebelah kanan dan kiri, kemudian beliau bersabda: ‘Inilah jalan-jalan (yang begitu banyak) yang bercerai-berai, atas setiap jalan itu terdapat syaithan yang mengajak kearahnya’
(HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim) lihat 1, hal 47-48
Kemudian beliau membaca ayat, yang artinya:
Dan (katakanlah): ‘Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa (Al-An’am 153).
Sehingga salafi meyakini bahwa semua golongan sesat, bid’ah, tidak selamat dan tidak masuk syurga.
Dengan keyakinan ini maka salafi merasa dirinya paling benar (karakter 1),
sedangkan ulama/golongan lain selalu salah, sesat dan bid’ah.
Sehingga golongan sesat dan bid’ah ini layak untuk dicela (karakter 2), harus diungkapkan semua keburukannya dan jangan diungkapkan secuil-pun kebaikannya, karena khawatir nanti diikuti oleh umat Islam. lihat 4, hal 28-29
Sehingga bertaburanlah dalam pengajian, daurah, seminar, buku-buku dan website-website salafi pernyataan bahwa hanya salafi-lah yang paling sesuai dengan as-sunnah dan celaan sesat dan bid’ah kepada ulama/golongan selain salafi.
Berpecah-belah sesamanya

Tetapi ada satu hal yang aneh dan sangat bertolak belakang dengan keyakinan diatas, pada saat kita mencoba lebih jauh mengenal salafi maka akan dijumpai fakta bahwa secara internal salafi berpecah-belah sesamanya.
Salafi yang satu meyakini bahwa dirinya paling benar dan yang lain sesat, sehingga mereka mencela salafi yang lain dan ditahdzir (diperingatkan) agar segera bertaubat. Sedangkan salafi yang dicela juga mengatakan hal yang sama, bahwa merekalah yang paling benar dan yang lain sesat.
Hal ini terjadi, kemungkinan besar karena karakter salafi yang merasa dirinya paling benar (karakter 1), sehingga sesama mereka sendiri saling berselisih, mau menang sendiri dan mencela satu sama lain (karakter 2).
Berikut ini beberapa pernyataan dari beberapa orang:

1. Abdurahman Wonosari:

Berkaitan dengan fitnah tahazzub, yang dinukilkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi, dengannya memecah-belah barisan salafiyyin dimana-mana, termasuk di Indonesia. Kemudian fitnah yang ditimbulkan oleh Yayasan Ihya’ ut Turots yang dipimpin oleh Abdurahman Abdul Kholiq serta Abdullah as Sabt.
Abdurahman Abdul Khaliq telah dinasihati secara keras dan sebagian Ulama’ menyebutnya sebagai mubtadi’. Adapun Jum’iyyah Ihya’ ut Turots dan Abdurahman Abdul Khaliq telah berhasil menyusupkan perpecahan sehingga mencerai-beraikan Salafiyyin di Indonesia. Apakah Jum’iyah Ihya’ ut Turots (disingkat JI) ini memecah-belah dengan pemikiran, kepandaian,gaya bicara mereka saja? lihat 6

2. Abu Ubaidah Syafrudin:

Bahkan sampai ta’ashub dengan kelompoknya, golongannya, sehingga menyatakan bahwa salafy yang murni adalah kelompok salafy yang ada di tempat fulani dan berada di bawah ustadz fulan. lihat 6
Perpecahan internal ini bisa sangat tajam, sehingga kata-kata yang diucapkan bisa sangat kasar, sehingga tidak layak diucapkan oleh seorang hamilud da’wah (pengemban da’wah),

3. Abdul Mu’thi:

Khususnya yang berkenaan tentang Abu Nida’, Aunur Rafiq, Ahmas Faiz serta kecoak-kecoak yang ada di bawah mereka. Mereka ternyata tidak berubah seperti sedia kala, dalam mempertahankan hizbiyyah yang ada pada mereka. lihat 6

4. Muhammad Umar As-Sewed:

Adapun Abdul Hakim Amir Abdat dari satu sisi lebih parah dari mereka, dan sisi lain sama saja. Bahwasanya dia ini, dari satu sisi lebih parah karena dia otodidak dan tidak jelas belajarnya, sehingga lebih parah karena banyak menjawab dengan pikirannya sendiri. Memang dengan hadits tetapi kemudian hadits diterangkan dengan pikirannya sendiri, sehingga terlalu berbahaya.

Ini kekurangan ajarannya Abdul Hakim ini disebabkan karena dia menafsirkan seenak sendiri dan memahami seenaknya sendiri. Tafsirnya dengan Qultu, saya katakan, saya katakan , begitu. Ya.., di dalam riwayat ini…ini… dan saya katakan, seakan-akan dia kedudukannya seperti para ulama, padahal dari mana dia belajarnya.
Ketika ditanyakan tentang Abdul Hakim , “Siapa?”, lalu diterangkan kemudian sampai pada pantalon (celana tipis yang biasa dipakai untuk acara resmi ala Barat, red), “Hah huwa Mubanthal (pemakai panthalon, celana panjang biasa yang memperlihatkan pantatnya dan kemaluannya itu)” lihat 2

5. Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji:

KITA KATAKAN: apalagi yang kalian tunggu wahai hizbiyyun? Abu Nida’, Ahmas Faiz dan kelompok kalian At-Turatsiyyin!! Bukankah kalian menunggu pernyataan dari Kibarul Ulama’? Bahkan “kita hadiahkan” kepada kalian fatwa dari barisan ulama salafiyyin yang mentahdzir Big Boss kalian!! Kenapa kalian tidak bara’ dan lari dari At-Turats?! Mengapa kalian masih tetap menjilat dan mengais-ngais makanan, proyek-proyek darinya?! lihat 5
Walhasil, perpecahan diantara salafi terjadi beberapa kelompok dan diantara mereka merasa paling dirinya paling benar.
Kelompok-kelompok yang berpecah-belah dan saling menganggap sesat itu antara lain:

1. Kelompok Al-Muntada (sururiyah) yang didirikan oleh Salafi London yakni Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin, kemudian di Indonesia membentuk kelompok Al-Sofwah dan Al-Haramain dengan pentolannya Muhammad Kholaf, Abdul Hakim bin Abdat, Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, Ainul Harits (Jakarta) dan Abu Haidar (As-Sunnah Bandung).
Ini juga dari kedustaan dia, membangun masjidnya ahlul bid’ah, banyak ya…. Hadza Al-Sofwah, dan Yazid Jawwas mengatakan “Al-Sofwah itu Salafy”, padahal tadinya ketika dia masih sama kita dia mengatakan bahwa Al-Sofwa itu ikhwani, Surury, tapi ketika dia bersama mereka sudah meninggalkan Salafiyyin, terus omongnya sudah lain.
Sehingga apa yang mereka sebarkan dari prinsip-prinsip ikhwaniyyah dan Sururiyyah ini, adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan Sunnah Rasulullah, dan bertentangan dengan 180 derajat. lihat 2

2. Kemudian kelompok Jami’yatuts Turots Al-Islamiyah (lembaga warisan Islam) yang didirikan oleh salafi Kuwait Abdurrahman Abdul Khaliq, di Indonesia membentuk kelompok Ma’had Jamilurahman As-Salafy dan Islamic Center Bin Baaz (Jogya) dengan pentolannya Abu Nida’, Aunur Rafiq Ghufron (Ma’had Al-Furqan Gresik), Ahmad Faiz (Ma’had Imam Bukhari Solo), dll.
Lantas bagaimana menyikapi orang-orang at Turots/Abu Nida’ cs ini ?
Syaikh Muqbil memberikan kaidah tentang orang-orang yang padanya ada pemikiran hizbiyah, bahkan Abdurahman Abdul Kholiq dicap adalah mubtadi’. Dengan keadaan Abu Nida’ yang demikian, apakah sudah bisa memastikan bahwa Abu Nida’ adalah hizbi ? Ya (Syaikh Yahya al Hajuri).
Disinilah perlunya membedakan antara Salafiyyin dan At Turots, sebagaimana Allah tegaskan tidak akan sama orang yang berilmu dan beramal, dibanding orang yang beramal dengan kejahilan. lihat 6

3. Ada lagi kelompok salafi lain seperti FK Ahlussunnah wal jamaah dan Lasykar Jihad yang didirikan oleh Ja’far Umar Thalib, yang juga dianggap sesat oleh salafi lainnya.
Beberapa komentar dari mereka
Abdurahman Wonosari:
Sebagian orang menganggap kita yang telah berlepas diri dari kesesatan Ja’far Umar Thalib (JUT). Namun ketika jelas setelah nasihat dari para Ulama’ atas JUT, namun dia enggan menerimanya bahkan justru dia meninggalkan kita, maka Allah memudahkan kita berlepas diri daripadanya. Bahkan memudahkan syabab kembali kepada Al Haq, tanpa harus bersusah-payah. Padahal sebelumnya, banyak yang ingin menjatuhkan JUT dari sisi akhlak dan muammalahnya.
Qadarallah, selama ini kita disibukkan dengan jihad (th 2000 – 2002), yang dengan jihad tercapai kebaikan-kebaikan, tidak diingkari juga adanya terjerumusnya dalam perkara siyasah/politik. Dan hal ini, membikin syaikh Rabi’ bin Hadi menasehatkan dengan menyatakan : “Dulunya jihad kalian adalah jihad Salafy, kemudian berubah menjadi jihad ikhwani.”
Mendengar peringatan yang demikian, alhamdulillah, Allah sadarkan kita semua, langsung bangkit dan kemudian berusaha membubarkan FKAWJ (Forum Komunikasi Ahlusunnah wal Jama’ah, red) dan menghentikan komandonya JUT (Laskar Jihad Ahlusunnah wal Jama’ah, red). Alhamdulillah. lihat 6
Kemudian kelompok salafi lainnya Ponpes Dhiyaus Sunnah (Cirebon) dengan Muhammad Umar As-Sewed. lihat 2 dan 6
Kelompok yang satu ini merasa salafi yang paling asli diantara salafi-salafi asli lainya, karena merujuk kepada ulama-ulama salafi Saudi.
Saking kerasnya pertentangan diantara kelompok salafi itu, mereka memperlakukan kelompok salafi lain telah keluar dari salafi dan dianggap sesat dan bid’ah oleh salafi lainnya,
Muhammad Umar As-Sewed (Cirebon):
Dalam syarhus Sunnah dalam aqidatus salaf ashabul hadits, kemudian dalam Syariah Al-Ajurry, kemudian Minhaj Firqatun najiyah Ibnu Baththah, itu semua ada. Yang menunjukkan mereka semua sepakat untuk memperingatkan ummat dari ahlul bid’ah dan mentahdzir ahlul bid’ah, membenci mereka, menghajar mereka, memboikot mereka dan tidak bermajlis dengan mereka, itu sepakat. Sehingga apa yang mereka sebarkan dari prinsip-prinsip ikhwaniyyah dan Sururiyyah ini, adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan Sunnah Rasulullah, dan bertentangan dengan 180 derajat. lihat 2
Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di negara-negara Arab-pun juga demikian, diantara ulama salafi sendiri meng-klaim merekalah salafi yang asli dan harus diikuti, sedangkan yang lain sesat dan harus dihindari pengajian-pengajian, buku-buku dan kaset-kasetnya. Salafi yang merasa asli menyatakan bahwa merekalah pengikut shalafush shalih yang benar, sedangkan salafi yang lain hanya mengaku-ngaku saja sebagai salafi. Begitu juga sebaliknya!
Kelompok ulama mereka pun terpecah
Ada kelompok ulama semisal Abdullah bin Abdil Aziz bin Baz, Shalih bin Fauzan Al Fauzan, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Muhammad bin Rabi’ Al-Madkhali, dll. (Saudi), Muqbil bin Haadi, Yahya Al-Hajuri (Yaman), Muhammad bin Abdurrahman Al-Maghrawi (Maroko), Falah bin Ismail, Falah bin Tsani As-Su’aidi, Walid Al-Kandari, Mubarak bin Saif Al-Hajiri (Kuwait).
Disisi lain terdapat pula ulama salafi yang mereka anggap sesat semisal Abdurrahman Abdul Khaliq (Kuwait), Muhammad Quthb (ex IM yang dianggap masuk salafi), Muhammad Surur bin Nayif Zainal (London), dll. lihat 5 Abdurrahman Abdul Khaliq misalnya, beliau mendirikan Jami’yatuts Turots Al-Islamiyah (lembaga warisan Islam) di Kuwait juga menggunakan landasan yang sama sebagai salafi, yakni menyatukan langkah dengan menjadikan Al-Quran dan as-sunnah serta mengikuti salafush shalih sebagai sumber tasyri’, mengembalikan setiap persoalan kepada kalamullah dan rasul-Nya. lihat 7 hal 11
Tetapi Abdurrahman Abdul Khaliq dianggap sesat dan bid’ah oleh salafi yang lain, karena beliau membentuk hizbi. lihat 6
Begitu juga Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin yang mendirikan Al-Muntada di London, juga mengaku sebagai salafi. Tetapi karena beliau mengkritik dengan keras kebijakan kerajaan Saudi yang bersekutu dengan kafir AS untuk memerangi Iraq pada perang teluk, beliau juga mencela ulama-ulama yang menjadi budak kerajaan Saudi dengan mecari-carikan dalil yang sesuai dengan kebijakan penguasa kerajaan. lihat 4, hal 78-82 catatan kaki Disamping itu beliau menggunakan prinsip Ikhwanul Muslimin: “Nata’awan fima tafakna wa na’dziru ba’dina ba’don fi makhtalahna” atau “Kita saling kerjasama apa yang kita sepakati dan kita hormat-menghormati saling memaklumi apa yang kita berbeda”. lihat 2 Sehingga beliau dianggap sesat dan bukan lagi sebagai salafi.
Sungguh menggelikan, satu-satunya golongan yang mengaku selamat dan masuk syurga, menganjurkan umat Islam untuk tidak berpecah-belah dan hanya menyatu dalam satu golongan saja (salafi), serta menganggap golongan lain sesat dan bid’ah.
Tetapi secara internal berpecah-belah sesamanya, baik di Indonesia maupun di daerah Arab dan sekitarnya.
Sangat kontradiksi bukan?,
disatu sisi menganjurkan umat Islam untuk bersatu tetapi disisi lain internal salafi berpecah-belah. Kecenderungan salafi untuk mencela golongan lain sebagai sesat dan bid’ah sehingga “terkesan” salafi memecah belah persatuan umat, apakah hal ini dimaksudkan karena mereka tidak rela bahwa hanya salafi saja yang berpecah-belah, sedangkan golongan lain tidak?
Silahkan nilai sendiri!
Wallahua’lam

Khatimah:
1.1. Karakter salafi berupa “Merasa dirinya paling benar” (karakter 1) dan kebiasaan “mencela golongan/ulama lain” (karakter 2) yang berseberangan pendapat dengan mereka bukanlah issu semata, tetapi dapat dibuktikan melalui fakta yang terjadi diinternal salafi sendiri.
2.2. Karakter salafi yang merasa paling benar sendiri, menimbulkan perpecahan internal salafi. Ini merupakan hal yang wajar, golongan manapun jika mendahulukan egoisme dan hawa nafsu belaka maka akan berpecah-belah.
Sedangkan golongan-golongan Islam lain, tidak mengalami perpecahan internal separah yang dialami salafi, bahkan secara internal mereka solid. Kita bisa merujuk kepada NU, Muhammadiyah, Ikhwanul Muslimin/Tarbiyah/PKS, Hizbut Tahrir, Persis, Al-Irsyad, Jamaah Tabligh, dll, mereka lebih tahan terhadap perpecahan internal karena karakter mereka memang beda dengan salafi (karakter 1 dan 2)
3. 3. Perpecahan salafi menjadi beberapa kelompok antara lain: kelompok Al-Sofwah & Al-Haramain Jakarta; Imam Bukhari Solo, Al-Furqan Gresik, Islamic Center Bin Baaz & Jamilurahman As-Salafy Jogya; FKAWJ & Lasykar Jihad Jakarta; Dhiyaus Sunnah Cirebon. Ini belum termasuk kelompok salafi yang telah ditahdzir dan kemudian taubat, tetapi tidak bergabung dengan salafi “asli” dan membentuk kelompok sendiri.
4. 4. Orang awam yang baru mengenal salafi menjadi kebingungan, bagaimana mungkin satu golongan yang meyakini selamat dan masuk syurga, tetapi secara internal mereka sendiri berpecah-belah. Lantas mana golongan salafi yang asli, yang selamat dan masuk syurga itu?. Kembali kepada kaidah yang diyakini salafi: “Kebenaran hanya satu sedangkan kesesatan jumlahnya banyak sekali”, maka berarti salah satu salafi saja yang asli dan yang lain sesat dan bid’ah, atau bisa jadi semuanya salafi palsu!
5. 5. Dengan memahami karakter asli salafi, kita bisa berlapang dada jika dicela sesat dan bid’ah oleh salafi, karena jangankan kelompok non salafi sesama salafi sendiri saja saling mencela sebagai sesat dan bid’ah.
Lantas apakah perlu dilayani jika anda dicela sesat dan bid’ah?
Ajaklah kaum salafi untuk diskusi dengan ilmu dan akhlak, karena tidak ada gunanya berdiskusi dengan orang mengabaikan akhlak dan merasa paling benar sendiri dan golongan lain selalu salah. Diskusi yang sehat adalah untuk “mencari kebenaran bukan kemenangan”, mencari hujjah yang paling kuat (quwwatut dalil). Jika meyakini hujjah lawan diskusi lebih kuat maka dengan lapang hati menerimanya, tetapi jika tidak ada titik temu dalam diskusi maka masing-masing harus menghargai perbedaan ijtihadnya.

 

Maraji’:
1. Risalah Bid’ah, Abdul Hakim bin Amir Abdat
2. http://www.salafy.or.id: manhaj:”Sururiyyah terus melanda muslimin Indonesia”, Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji
3. Lihat juga http://www.assunnah.or.id
4. Menepis penyimpangan manhaj dakwah, Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi
5. http://www.salafy.or.id, manhaj: Ulama berbaris tolak JI (Jum’iyah Ihya’ ut Turots), Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji
6. http://www.salafy.or.id, manhaj: “Bahaya jaringan JI dari Kuwait dan At Turots”, Abdul Mu’thi, Abu Ubaidah Syafrudin dan Abdurahman Wonosari
7. 10 wasiat bekal aktifis dakwah dan harokah, Abdurrahman Abdul Khaliq
8. Mendudukkan antara sunnah dan bid’ah, Lajnah Ihya’ut Turats Al-Islamiy
9. Lihat juga http://www.atturots.or.id
10. Lihat juga www25.brinkster.com/salafyoononline/

 

Wahaby / Salafy bukan saja gemar mengkafirkan orang lain di luar kelompoknya tetapi sesama Salafy  saja mereka juga saling mengkafirkan..coba simak tulisan dibawah ini :

ketika saya hadir di Jalan Haji Asmawi Jakarta selatan ( tempat mankalnya salafy wahdah islamiyyah), Ustadz salafy wahdah bilang salafiyyin aliran turotsi itu hizbi antek PKS dan ikhwanul muslimin yang termasuk 72 golongan yang masuk neraka jahanam.

ketika saya hadir ditaklim salafy yang ada di masjid hidyatusalihin poltangan pasarminggu (geng salafy sururi), ustad-ustadz nya bilang kalau salafy wahdah islamiyyah adalah khawarij umat ini.

ketika saya hadir di masjid fatahillah (salah satu salafy yamani), ustadz salafy yamaninya bilang kalau salafy sururi, salafy haroki, salafy turotsi, salafy ghuroba, salafy wahdah islamiyyah, salafy MTA, salafy persis, salafy ikhwani, salafy hadadi, salafy turoby bukanlah salafy tapi salaf-i (salafi imitasi) yang khawarij, bidah dan hizbi.

Jafar Umar Thalib (salafy ghuroba) bilang kalau Abdul Hakim Abdat ( salafy turotsi)itu ustad otodidak yang pakar hadas ( najis) bukan pakar hadis

Muhamad Umar As Seweed ( salafy yamani) bilang kalau Jafar Umar Thalib itu ahli bidah dan khawarij. bahkan komplotan as Seweed bikin buku dengan judul ” pedang tertuju di leher Jafar Umar Thalib” yang artinya Jafar Umar Thalib halal dibunuh

Abdul Hakim Abdat (salafy turotsi) bilang kalau salafy Wahdah Islamiyyah itu sesat menyesatkan dan melakukan dosa besar (hanya) dengan mendirikan yayasan/organisasi.oragnisasi adalah hizbi.

salafy Wahdah Islamiyyah bilang kalau kalau salafy Yamani dan Abdul Hakim Abdat itu salafy primitif dan terbelakang yang hanya cocok hidup di jaman puba atau pra sejarah.

pokoknya tak terhitung lagi perseteruan antar salafy. dan….ini baru kisah perseteruan antar sesama salafy, belum lagi perseteruan salafy dengan NU, Persis, Muhamadiyyah, Majelis Rasulullah, PKS, DDII, tarbiyyah, Nurul Musthofa, HTI dan banyak lagi.

ironis sekali, salafy yang mengaku-ngaku anti perpecahan, anti hizbi kok malah berperan sebagai aktor utama perpecahan umat islam.juga sebagai biang kerok kekisruhan dikalangan ahlu sunnah. salafy sendirilah penyebab dakwah salafusalihin menjadi hancur berantakan.

ironis sekali, ustadz-usyadz salafy indonesia yang konon belajar jauh-jauh dan lama ke timur tengah, tapi ditataran basic yaitu akhlak, sangat BEJAT DAN AROGAN.

mereka tak ubahnya seperti orang dungu narsis yang tenggelam di lautan tumpukan buku-buku tebal.

yah…keledai ditengah tumpukan buku-buku tebal tetap saja keledai.

jangan halangi dakwah salaf, biarkan salafy sendiri yang menghalangi dakwah salaf.

jangan memecah belah barisan salaf, karena barisan salaf akan berpecah belah dengan sendirinya dan secara alami.

jangan hancurkan salafy, karena cukup salafy sendiri dengan kesadaran penuh dan suka cita menghancurkan dirinya sendiri.

BEGINILAH TABIATNYA SALAFY / WAHABI

Imam Syafi’i yang nama aslinya adalah Muhammad bin Idris (lahir 150 H dan wafat 204 H) adalah pendiri Mazhab Syafi’i yang merupakan Mazhab yang banyak diikuti oleh masyarakat Islam dibelahan bumi Asia dan Indonesia sendri. Ia sejajar dengan pendiri Mazhab lainnya dan merupakan sarjana teratas kaum Muslimin dari segala zaman. Pengetahuannya tentang Hadits dan Hukum Islam sangat istimewa dan karyanya Kitab ul-Ulum benar- benar unik. Untuk waktu yang cukup lama dasar agama pemerintahan Mesir adalah konsepsi dan hasil interpretasi dari pemikirannya.

Imam Syafi’i mengikuti garis-garis yang ditempuh oleh Ibnu Abbas seorang sahabat Rasulullah SAW , juru tafsir terkemuka di zamannya yang juga tidak luput dari tuduhan murtad dari ulama-ulama fanatik yang tidak sependapat dengan jalan pikirannya. Imam Syafi’i juga memperhatikan ilmu-ilmu Al-Qur’an sebagaimana dahulu Ibnu Abbas memperhatikannya di zaman Rasulullah SAW. Dia juga mencurahkan perhatiannya kepada sya’ir dan sastra sebagimana dia juga mencurahkan perhatiannya kepada fiqih. Majelisnya dihadiri pelajar-pelajar yang mempelajari Al-Quran, yang mempelajari Hadits, yang mempelajari fikh dan yang juga mempelajari syair dan sastra.

Karena kebodohan dan kefanatikan para ulama yang menetangnya, ia juga terpaksa menghadapi tuduhan-tuduhan yang berat serta menghinakan. Tetapi ia selalu tabah dan teguh dalam pendiriannya dan satu incipun tidak bergeser dari apa yang yang ia yakini benar. Dengan wajah yang selalu tersenyum ia menghadapi semua cobaan dan penghinaan itu. Ketabahan dan keteguhannya dalam pendirian diakui oleh kawan dan lawannya baik sezamannya maupun generasi dibelakangnya.

Diriwayatkan para ulama yang fanatik menyebutnya “bahkan lebih berbahaya dari iblis” . Ia cenderung beraliran Syi’ah karena menaruh penghormatan yang luar biasa kepada Sayyid us-Syuhada Imam Husein bin Ali dan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Dan atas tuduhan suatu kejahatan ia dijebloskan dalam penjara di zaman kekuasaan Dinasti Abbasiah. Diketika itu Yaman di kuasai oleh Gubernur yang zalim dan Imam Syafi’i yang ketika itu juga sebagai petugas negara yang jujur mengkritik pemerintahan yang tidak jujur itu. Karena itu Gubernur membuat fitnah terhadap Imam Syafi’i kepada Khalifah dengan mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah pengikut Syi’ah. Gubernur juga menuduh Imam Syafi’i bersekongkol dengan pemberontak untuk menggulingkan pemerintah.

Khalifah-khalifah Abbasiah yang selamanya sangat waspada terhadap keturunan Ali dan begitu saja menerima pengaduan Gubernur ini, langsung menanggapi pengaduan Gubernur Yaman ini. Khalifah Ar- Rasyid yang berkuasa ketika itu langsung memerintahkan Gubernur Yaman untuk menangkap Imam Syafi’i berikut sembilan orang alawiyyin disembelih kepalanya dan Imam Syafi’i didatangkannya ke Baghdad.

Perjalanan dari Yaman ke Baghdad sungguh sangat memalukan, yang mengakibatkan penderitaan hebat bagi Imam Syafi’i yang disegani itu. Dengan memperalat ulama-ulama yang memperkuda rakyat-rakyat yang bodoh disepanjang jalan menuju Baghdad itu beliau telah dijadikan tontonan dan sasaran ejekan, kata-kata pedas dan caci maki. Ketika sepanjang jalan yang jauh itu gerombolan orang banyak dengan pimpinan ulama-ulamanya mencemoohkan nya dan hamba pilihan Tuhan ini tenang berjalan sambil mendengarkannya dengan diam. (Harba-i-Tafkir, hal 23, 9 April 1933 dikutip oleh Maulana Dost Muhammad Syahid )

Dengan karunia Allah jua yang tidak membiarkan hamba-hamba pilihannya jadi mangsa ketidakadilan Imam Syafi’i terlepas dari hukuman yang ditimpakan kepadanya. Muhammad Ibnu al-Hassan yang pada masa itu menjadi Hakim Besar di Baghdad terpikat hatinya untuk membantu Imam Syafi’i dan berusaha sangat untuk melepaskan beliau dari tuduhan-tuduhan tsb. Maka dengan kesaksian Hakim Besar itu Imam Syafi’i terlepas dari hukumam pancung leher yang dituntutkan kepadanya.(Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, TM Hasbi Ash-Siddiqie, jilid II hal 236,).

Hadist Rasulullah Saw :

Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan takakan memasukkan kamu ke pintu kesesatan. (Shahih Bukhari, jilid 5, hal. 65, cetakan Darul Fikr)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.